Laman

...WINNER IS THE BEST NUMBER ONE!..... LCD Text Generator at TextSpace.net

Jumat, 23 Desember 2011

Apakah kita sudah bermanffat bagi orang lain? (INTROPEKSI DIRI)

Kehidupan seseorang tidak diperhitungkan dengan bilangan tahun yang dilaluinya sejak kelahiran hingga kematiannya, tetapi diperhitungkan dengan karya-karya yang telah dilakukan selama hidupnya serta pengaruh dari karya-karya itu dalam kehidupan manusia baik dari dimensi tempat maupun dari dimensi waktu, baik pengaruhnya itu positif dan bermanfa'at maupun negatif dan membahayakan. Akibat sebagai konsekuensinya ia akan menerima pahala dan balasan yang baik atau dosa dan siksa.

 
 

Makna ini telah dijelaskan oleh sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Salam:

 
 

"Barangsiapa memberikan satu contoh perbuatan yang baik dalam islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang melakukan perbuatan itu setelahnya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang melakukannya. Dan barang siapa yang memberikan satu contoh perbuatan yang buruk dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang melakukan dosa tersebut setelahnya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa orang yang melakukannya." (HR.Muslim)

 
 

Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir memahami bahwa misinya dalam kehidupan ini adalah beribadah kepada Allah dan menunaikan tuntutan-tuntutan agama ini. Ia memahami bahwa akhirat adalah tempat perhitungan dan pembalasan sehingga masa depannya di akhirat kelak sangat tergantung dengan amalannya semasa di dunia. Dan ia memahami bahwa Allah akan memperhitungkan semua amalan sekecil apa pun.

 
 

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (al-zalzalah: 7-8)

 
 

Ia juga memahami bahwa tidak ada tempat lagi setelah dunia ini selain surga dan neraka. Oleh karena kehidupan seseorang di dunia ini sangat singkat sekali, maka seorang yang berakal tidak boleh menyia-nyiakan sedikit pun dari waktunya tanpa mempergunakannya untuk sesuatu yang bermanfaat pada hari kiamat nanti, manusia akan merasa bahwa ia tidak tinggal di dunia kecuali seperti di sore atau di pagi hari saja. Seorang penyair menuturkan:

 
 

"detak-detak jantung manusia menuturkan kepadanya, bawasanya kehidupan ini adalah detik-detik dan menit-menit yang dilaluinya".

 
 

Imam Hasan Al-Bashri juga menuturkan: "wahai anak adam, sesungguhnya dirimu tidak lebih dari potongan-potongan masa, satu hari berlalu, hilang pula sebagian dari hidupmu."

 
 

Sehingga menjadi kewajiban bagi setiap masing-masing dari kita untuk senantiasa bertanya pada hati dan batin kita sudahkah aktifitas sehari-hari kita memberikan manfaat bagi diri kita di dunia dan akhirat? Atau memberikan manfaat bagi orang lain? Alangkah naifnya jika ternyata kita hidup tidak pernah memberikan sumbangsih kebaikan bagi orang lain. Bukankah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Salam telah bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."??

 
 

Jadi, orang yang paling berbahagia adalah orang yang mendapat perkenan dari Allah sehingga bisa mendayagunakan semua waktunya untuk melakukan kebaikan dan komitmen terhadap aqidah yang selamat, ibadah yang benar, akhlaq yang teguh, da'wah kepada Allah serta banyak memberikan manfaat bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

 
 

Oleh karena itu seorang pejuang da'wah senantiasa bertekad untuk menempuh jalan da'wah demi merealisasikan tujuan besar yang menjadi tuntutan fase yang dilalui da'wah pasca keruntuhan Khilafah Islamiyah, yaitu menegakkan sekali lagi Daulah Islamiyah dan Khilafah Islamiyah, maka ia harus menyadari besarnya tujuan ini, upaya-upaya berat yang dibutuhkannya dan pengorbanan-pengorbanan yang dituntutnya. Di samping ia harus mengetahui juga kemuliaan dan pahala besar yang akan diperolehnya.

 
 

Kewajiban-kewajiban dan tugas-tugas yang dituntut dalam medan da'wah untuk mewujudkan tujuan besar ini sudah cukup untuk menyibukkan semua pejuang da'wah, bahkan waktu mereka itu sangat sempit untuk menunaikan kewajiban-kewajiban itu, karena itu dikatakan oleh seorang ulama':

 
 

"kewajiban-kewajiban itu lebih banyak dari waktu- waktu yang tersedia."

 
 

Perumpamaan seorang pejuang da'wah dan ladang da'wahnya adalah seperti seseorang yang memiliki harta sedang di depannya ada proyek investasi yang paling berhasil. Jadi, perumpamaan harta di sini waktu, harta, ilmu, kemampuan jiwa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita yang bisa kita dayagunakan untuk modal perniagaan yang menguntungkan bersama Allah dengan berjuang di ladang da'wah dan mendayagunakan semua nikmat ini untuk merealisasikan semua tujuan yang paling mulia dan besar; yaitu meneguhkan agama Allah. " Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan."

 
BY:ME

Tidak ada komentar:

Posting Komentar